Apa Kamu Termasuk Orang Yang “Dikit-dikit Sharing/Update” ?

Image result for gif social media

Ada kalanya kita kesel sama temen yang seneng banget sharing kehidupan pribadinya di media sosial (medsos). Mau makan update dulu, jalan-jalan update, pacaran update, putus update, dimarahin orang tua juga update. Pokoknya dia ini tipe orang yang oversharing, deh! Anehnya, tanpa sadar kadang kita juga suka membagikan cerita sehari-hari di medsos, apalagi kalau lagi hadir di event tertentu atau ketemu sama seseorang yang terkenal. Sayang aja gitu kalau nggak di-share di medsos. Hmmm, apa itu artinya kita juga termasuk orang yang oversharing?

 

OVERSHARING NGGAK CUMA DI MEDSOS

Image result for gif talk to bff

Sebelum mengategorikan apakah diri kita termasuk orang yang oversharing atau bukan, sebaiknya kita pahami dulu apa itu sifat oversharing. Oversharing adalah kecenderungan seseorang yang selalu merasa butuh menceritakan ‘sesuatu’ ke orang lain. Ternyata, kecenderungan oversharing juga nggak cuma ditunjukkan seseorang lewat medsos. Di dunia nyata juga banyak kok yang oversharing. Kalo kamu kenal seseorang yang seneng menceritakan apa pun saat kalian mengobrol, mungkin dia adalah salah satunya. Literally menceritakan apa pun, mulai dari apa yang dia makan di pagi hari, kejadian sial di perjalanan, gimana dia ketemu sama pacarnya, gimana dia putus, bahkan sampe masalah di keluarganya.

Dilansir dari Huffington Post, menurut psikoterapis sekaligus penulis Amy Morin, oversharing terjadi ketika seseorang salah memahami 4 hal ini:

1. ‘Kedekatan’ Hubungan. Orang yang oversharing menganggap kalo menceritakan sesuatu yang sifatnya privat menandakan hubungan dia dan lawan bicara sudah dekat. Buat dia, menceritakan hal pribadi bisa membuatnya lebih deket sama orang lain. Yang salah adalah, kadang dia nggak peduli apakah lawan bicaranya nyaman atau nggak mendengarkan cerita dia.

2. Pencair Suasana Saat Ketemu Orang Asing. Pernah nggak sih ketemu orang asing di kereta atau pesawat, tapi tiba-tiba dia cerita banyak tentang kehidupan pribadinya? Orang yang oversharing menganggap, cerita ke orang asing adalah kesempatan yang baik buat bercerita. Nggak peduli mau nge-judge seperti apa pun, toh orang asing itu nggak bakal ketemu lagi sama dia.

3. Menghilangkan Kecanggungan. Ketika kita ditinggal berdua sama kenalan satu kampus yang nggak terlalu deket, kita tentu bingung mau ngobrol apa. Ujung-ujungnya malah saling canggung alias awkward. Orang yang oversharing menganggap menceritakan hal pribadi sebagai upaya menghilangkan kecanggungan.

4. Mendapatkan Simpati. Orang yang oversharing biasanya mengharapkan simpati dari lawan bicara saat dia menceritakan hal-hal pribadinya. Padahal, lawan bicaranya ini bukan orang yang deket-deket amat sama dia. Penyebabnya bisa jadi si oversharing ini merasa saat itu nggak ada orang yang tertarik buat mendengarkan cerita atau keluhan pribadinya. Orang yang punya sifat oversharing akut biasanya cenderung nggak punya temen yang bener-bener deket secara emosional.

5. Berusaha Bersikap Jujur. Orang yang oversharing menganggap kebiasaannya menceritakan segala sesuatu adalah upayanya dalam bersikap jujur atau ‘authentic’ dalam hidup. Padahal, an authentic person and oversharing person is totally different. Orang yang jujur bukan senang membagikan cerita kehidupan pribadinya, tapi lebih ke apa yang dia yakini benar alias personal beliefnya.

 

KENAPA ORANG OVERSHARING DI MESOS?

SERING-UPDATE-DI-SOSMED-APAKAH-KITA-TERMASUK-ORANG-YANG-OVERSHARING

Menurut penulis Your Online Secrets Jennifer Gollbeck dalam Psychology Today, ada beberapa alasan kenapa seseorang punya kecenderungan oversharing di media sosial. Pertama, merasa lawan bicaranya anonim dan belum tentu kepikiran sama cerita pribadi kita sebagaimana lawan bicara di dunia nyata. Kedua, merasa lawan bicaranya nggak lihat ekspresi wajah kita. Ketiga, merasa komunikasinya satu arah dan responnya tertunda, jadi kita nggak perlu langsung mendengar tanggapan dari lawan bicara. Keempat, bisa pake identitas palsu buat curhat di medsos. Kelima, merasa otoritas di medsos nggak setinggi di dunia nyata. Contohnya, ketika kita nggak bisa banyak cerita di tempat kerja karena takut sama atasan, di media sosial kita bisa bebas ngomongin apa aja sekalipun sang atasan saling follow sama kita.

 

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN BIAR NGGAK OVERSHARING?

Related image

Biar kita nggak punya kecenderungan buat oversharing, kita harus selalu inget kalo nggak semua orang bakal tertarik sama apa yang kita ceritain. Sebelum mulai cerita ke orang lain, sebaiknya kita tanyain dulu ke diri sendiri, apa sebenernya tujuan kita bercerita? Emang nggak ada hal lain ya yang bisa kita lakuin buat mencairkan suasana? Apakah kita siap mendengar tanggapan lawan bicara?

Kalau tetep merasa perlu cerita ke orang lain, cobalah pilih hal apa aja yang bisa dan nggak bisa kita ceritain dengan mudah ke orang lain. Pilih juga siapa lawan bicara kita. Pilihlah mereka yang bener-bener deket dan peduli sama kita, contohnya keluarga atau sahabat. Soalnya, cuma mereka yang bakal serius membantu kita menemukan solusi.

Buat mencegah oversharing di sosmed, inget aja berapa jumlah followers kita dan seberapa banyak dari mereka yang ujung-ujungnya bakal ngomongin kita di belakang. Kalo tetep ingin cerita lewat dunia maya, cobalah cara dan medium lain yang lebih bermanfaat. Misalnya, dengan menulis opini atau artikel di blog pribadi atau mengirimnya ke media massa. Tentu aja dengan cara penulisan yang tepat dan dibubuhin sama analisis, supaya pelajaran yang kita dapet bisa dipetik sama orang banyak. Kalau nggak berani, coba aja tulis di blog rahasia atau buku diary.

 

GIMANA MERESPON TEMEN YANG OVERSHARING?

Image result for emma stone easy a gif

Kalo kita lebih sering berada di pihak yang mendengarkan cerita dari si oversharer, tentu kita bingung gimana caranya menghadapi dia. Mau menolak biar nggak denger ceritanya, takut malah menyakiti hati dia. Mau menghindar, kita bukan anak kecil lagi yang suka main kucing-kucingan sama temen. Nah, Amy Morin memberi saran gimana cara menghadapi orang kayak gitu lewat dua hal.

Pertama, ganti topik tanpa memotong pembicaraan. Ini berlaku kalo kita tipe orang yang nggak enakan sama orang lain. Pura-pura aja dulu dengerin kalimat dia sampai habis, lalu kasih respon singkat sekadar ngasih tahu kalo kamu menyimak cerita dia. Terus, baru deh alihkan pembicaraan ke hal-hal umum kayak film yang lagi happening, gosip selebriti, isu politik yang lagi hangat, atau tren fashion di kampus. Dia pasti bakal respon dengan penuh semangat. Contoh, “Ya ampun, kasian banget kamu. By the way, menurutmu gimana film Benyamin Biang Kerok kemarin? Udah nonton belum? Eh kamu lagi nonton drama Korea apa sih akhir-akhir ini?”

Kedua, kalo kamu tipe orang yang jujur dan nggak bisa bohong sama orang lain, jangan respon. Tapi, jangan kasih responnya cuma ke cerita pribadi yang bener-bener bikin kamu nggak nyaman. Misal, ketika temenmu nyeritain personal love life dia, kamu bilang aja, “Aku nggak tahu harus respon gimana, tapi jujur aku merasa takut kalo kamu terus-terusan cerita urusan pribadimu ke aku. Aku nggak bisa jamin aku nggak bakal keceplosan ngomongin ceritamu ini ke orang lain, maaf ya.”

 

 

 

Sumber: (http://www.gogirl.id)

Post Author: SKteam