Jangan Biarkan Kita Jadi Ikut-ikutan Seksis di Sosial Media

Image result for GIF SEXISM

 

Media adalah satu agen yang bisa menyebarkan seksisme ke tengah-tengah kita. Kenapa? Soalnya, media punya kemampuan buat ngebentuk opini publik lewat hal-hal yang dipublikasikannya. Nggak tertutup media massa aja, kok. Di era sekarang ketika istilah social media influencer makin familiar, media sosial juga punya peran besar dalam membentuk dan mengubah opini publik.

Menurut Oxford Dictionary, sexism is prejudice, stereotyping, or discrimination, typicaly against women, on the basis of sex. Dari definisi tersebut, kebayang dong bahayanya kalo media membuat seksisme jadi dianggap sebagai hal lumrah di tengah masyarakat? Eits, tunggu dulu. Emangnya seksisme di media itu kayak gimana, sih?

 

Image result for Sexism

 

WASPADAI BENTUK-BENTUK SEKSIS DI MEDIA

Pada hari perempuan internasional (8/3), kami mengikuti diskusi ‘Wajah Perempuan di Media’ dalam acara Men 4 Women 2018 di FX Sudirman Hall. Dari diskusi itu, kami dapet insight kalo ternyata masih banyak bentuk-bentuk seksis yang bisa kita temuin di media massa. Lima di antaranya Kita udah rangkum di bawah ini:

  • Pilihan Kata di Media Massa. Salah satu bentuk seksisme yang paling kelihatan dari media massa adalah pilihan katanya. Sebenernya sih bukan cuma media massa, karena kadang kita juga nemu postingan di media sosial yang postingannya seksis. Tapi, media massa kan punya tanggung jawab yang jelas ke publik dan bersangkutan sama kode etik profesi. Biasanya, pilihan kata seksis bisa kita temuin di berita tentang kekerasan seksual, contohnya kata ‘digagahi’ di berita pemerkosaan.
  • Obral Kata ‘Cantik’ di Media Massa. Sering banget kita nemu berita dengan subjek perempuan yang mengobral kata ‘cantik’. Entah itu ‘ilmuwan cantik’, ‘politikus cantik’, ‘CEO cantik’, dan sejenisnya. Sebenernya kata ‘ganteng’ juga sering kita temui di pemberitaan, meski porsinya lebih sedikit. Selain itu, pemberitaan mengenai subjek yang ‘ganteng’ dan ‘cantik’ cenderung punya perbedaan. Dalam diskusi tersebut, penulis dan jurnalis Feby Indriani bilang, “Media itu cenderung sulit mempersepsikan perempuan melampaui penampilannya.”
  • Meme dan Jokes di Media Sosial. Kita pasti setuju kalo medium yang paling banyak unsur seksisnya adalah meme dan jokes-jokes yang ada di media sosial. Soalnya, kadang meme dan jokes ini suka kita bawa ke percakapan sehari-hari. Hal seksis paling umum yang sering kita temuin di meme dan jokes seksis ini adalah stereotip tentang cewek: suka cowok bermobil, suka bilang ‘terserah’, atau kebiasaan marah-marah pas PMS.
  • Iklan Pamer Tubuh Perempuan. Biasanya, iklan produk perawatan mengandung unsur seksis yang cenderung selalu mengarah ke standar cantik perempuan di mata laki-laki. Banyak iklan produk perawatan perempuan yang mengarahkan subjek atau bintang iklannya buat mendapat perhatian laki-laki sebagai benefit dari produk tersebut. Begitu pula sebaliknya, banyak iklan produk perawatan laki-laki melibatkan perempuan sebagai objek dari hasil pemakaian produk tersebut. Ibaratnya, “Kalo pake produk ini, cewek-cewek seksi dijamin bakal mendekat.”
  • Video Seksis karya YouTuber. Siapa yang sempet nonton tren video sejenis ‘prank cewek matre’, ‘cewek cantik vs cewek pinter’, atau ‘jalan sama cewek cantik’? Beberapa YouTuber membuat video (yang tanpa kita sadarin) seksis dan menguatkan stereotip tentang perempuan. Dampaknya sama kayak obral kata ‘cantik’ di media massa, memunculkan standar cantik dan tidak cantik di tengah masyarakat penonton YouTube.

 

APAKAH VISUAL MENARIK ITU SEKSIS?

JANGAN-SAMPE-KITA-KEBAWA-SEKSIS-GARA-GARA-MEDIA

Dalam diskusi tersebut, Febby sempet nanya tentang persepsi menarik secara visual dalam kacamata media televisi kepada moderator acara yang merupakan presenter Kompas TV, Timothy Marbun. Kata Feby, “Bener nggak sih untuk tampil di TV kita harus menarik secara visual?”

Kalo kita sering heran kenapa presenter perempuan, aktris, news anchor perempuan, atau model iklan perempuan seolah-olah punya standar ‘cantik’ tersendiri, pertanyaan Feby mungkin relate sama apa yang kita rasain. Standar ‘cantik’ tersebut sebenernya nggak selalu berlaku di semua tayangan di televisi. Sebab, ada aja sosok di televisi yang penampilan fisiknya nggak masuk ke kategori standar ‘cantik’ yang dipersepsikan selama ini. Bedanya, ‘sosok lain’ itu jarang banget jadi sorotan utama di sebuah tayangan.

Timothy Marbun mencoba menjawab pertanyaan ini dari pengalamannya bekerja di televisi. Dia bilang, “Kalo di TV, apa pun yang ditampilkan pasti ada pertimbangannya, karena ya TV itu visual. Penampilan mencolok cenderung kita hindari di TV. Mencolok itu bukan berarti cantik luar biasa atau jelek luar biasa. Pernah ada pertanyaan, ‘Kenapa sih di TV itu jarang ada orang gemuk? Emangnya orang gemuk itu nggak boleh eksis ya di TV?’. Dari sudut pandang TV, nanti orang malah ngomongin berat badannya dan lupa sama isi tayangannya. Kalau narasumber yang diundang sih nggak peduli gimana penampilannya, kecuali apa yang dia pake (pakaiannya) karena secara teknis bisa memengaruhi tampilan di kamera.”

 

GIMANA CARANYA BIAR KITA NGGAK KEBAWA SEKSIS?

Related image

Ketika kita sering menyalahkan media yang seringkali seksis mempersepsikan perempuan, ada baiknya kita melihat juga diri kita sendiri. Jangan-jangan kita kebawa-bawa seksis di kehidupan sehari-hari karena media. Jangan-jangan kita malah ikut menjadikan meme seksis jadi candaan seksis di obrolan sama temen dekat. Berhubung mengubah media yang seksis itu sulit buat kita lakukan, mending mulai untuk nggak seksis dari diri sendiri. kita punya tips yang bisa kita ikutin biar kita nggak kebawa-bawa seksis gara-gara media.

  • Kalo perlu, tulis list media mana aja yang kita temukan seksis dalam pemberitaannya. Dengan tahu media mana yang nggak baik buat kita konsumsi, kita jadi tahu kan media mana yang baik buat kita? Kita juga jadi bisa sharing ke orang lain, terutama ke adik-adik kita kayak gimana bentuk seksis di media.
  • Susah buat nggak ikut memerhatikan penampilan, terutama kalo kita melihat tayangan iklan. Yang bisa kita lakukan adalah tetap sadar kalo penampilan menarik alias ‘cantik’ di media adalah sesuatu yang dikonstruksi. Hanya dengan cara begitulah kita bisa terlepas dari bayang-bayang standar ‘cantik’ tersebut.
  • Buat lepas dari bayang-bayang standar ‘cantik’, kita juga mesti sadar kalo banyak kata sifat lain selain tentang penampilan untuk menggambarkan manusia. Jangan juga kita malah jadi membanding-bandingkan kata-kata sifat tersebut dengan kata sifat ‘cantik’. Contohnya, dengan berpikir kalau cewek cantik itu berbeda kualitasnya dengan cewek pintar. Atau, cowok ganteng itu berbeda kualitasnya dengan cowok humoris.
  • Jangan mudah kemakan stereotip seksis yang dikonstruksi sama meme, komik strip, atau jokes di media sosial atau webtoon. Lebih jauh lagi, jangan jadi agen yang menyebarkan stereotip tersebut. Pada awalnya mungkin candaan kayak gitu terlihat lucu, tapi kalau kita lihat lagi untuk kedua kalinya, kita bakal mengerutkan kening. Cewek kan nggak semuanya kayak yang digambarin di candaan itu, cowok juga sebaliknya.
  • Sebarkan virus ‘say no to sexism’ ke orang lain! Salah satu caranya adalah mengingatkan temen kita yang berperilaku seksis. Nah, hal lain yang bisa kita lakukan adalah dengan nyebarin artikel ini ke temen-temen terdekat kita.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: (http://www.gogirl.id)

 

Post Author: SKteam