Sebel Gak Sih Sama Netizen Yang Suka Nyinyir? Giniin Aja Deh

Sebagai pengguna aktif media sosial (medsos), kita sering banget mendengar kata ‘nyinyir’. Mungkin kita sendiri malah sering menggunakannya. ‘Nyinyir’ merujuk pada pengguna internet (yang ke depannya bakal kita singkat jadi netter) yang sering mengutarakan pendapatnya dengan cara yang beda. Maksud beda di sini, si netter cenderung menggunakan gaya menyindir dan sarkastik sehingga memicu perdebatan. Sampe sekarang pun, kata ‘nyinyir’ selalu dikonotasikan negatif di kalangan pengguna medsos.

 

By the way, sebelum nge-judge apakah seorang netter termasuk kategori ‘nyinyir’ atau nggak, ada baiknya kita pahami arti kata nyinyir terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘nyinyir’ artinya mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet. So, sebenernya ketika seorang netter bersikap menyindir atau sarkas di medsos, belum tentu dia termasuk orang yang nyinyir. Beda halnya ketika netter tersebut terus menerus mengomentari atau memposting pendapat yang sama, barulah dia bisa disebut ‘nyinyir’.

Nah, biar nggak menjadi panjang tangan dari kesalahpahaman berbahasa, Kita ganti kata ‘nyinyir’nya dengan ofensif, ya. Secara bahasa, ofensif artinya sesuatu yang sifatnya agresif yang digunakan untuk menyerang dan mengakibatkan timbulnya ketidaksenangan.

 

OFENSIF DI LINIMASA ALIAS TIMELINE

CARA-MENGHADAPI-ORANG-YANG-OFENSIF-ALIAS-NYINYIR-DI-MEDSOS

Kita mungkin sering melihat opini di caption Instagram, postingan Facebook, atau thread di Twitter yang cukup agresif dan membuat kita mengategorikannya ke dalam postingan ofensif. Orang yang ofensif itu bisa temen kita, orang terkenal yang kita follow, atau bahkan orang asing yang nggak sengaja lewat di linimasa medsos kita. Pas kita lihat respon para netter lain, beuh, kita kaget sama jumlahnya. Ternyata postingan ofensif kayak gini mampu menarik perhatian banyak orang.

Salah satu contohnya adalah akun @vousmelire yang thread-nya sempet terkenal di Twitter pada 2 Februari lalu. Saat itu, dia menulis thread yang berisi komentarnya terhadap pengguna Instagram yang suka pamer. Nggak disangka-sangka, thread tersebut mengundang banyak orang buat merespon. Sampe sekarang, thread itu udah dikomentarin 212 orang, di-retweet 2.300-an orang, dan di-like sama 1.900-an orang.

 

 

Thread saya tujuannya bukan buat debat, tapi kalo orang lain yang berdebat sih silakan. Saya sebagai penulis thread-nya hanya menuliskan fenomena yang ada tanpa bermaksud membuka forum debat. Dari awal saya udah tahu aka nada tanggapan pro-kontra, ya menurut saya sih wajar ya. Ketika suatu hal nggak sesuai sama sudut pandang kita, pasti ada keinginan untuk ikut bersuara juga,” cerita @vousmelire pas Kita hubungi lewat direct message (DM) Twitter pada Rabu (8/3).

Selain itu, @vousmelire juga cerita kalo thread-nya tersebut bisa mengundang perhatian karena banyak orang yang merasa punya pemikiran yang sama. Dia juga mengakui, karakter tulisannya yang blak-blakan adalah faktor lain yang bikin banyak netter berkomentar. Dia merasa, karakter tulisan seperti itulah yang menarik perhatian banyak orang.

Yes, saya emang tipe yang blak-blakan ketika mengutarakan pendapat. Nggak cuma di Twitter, di real life juga, tapi ya tergantung konteksnya. Dan saya pikir, mau cara nulisnya formal atau kayak gimana pun, dikomentarin orang itu udah pasti. Tinggal mempersiapkan diri aja harus ngapain kalau ada yang kontra,” sambungnya.

 

OFENSIF DI KOLOM KOMENTAR

CARA-MENGHADAPI-ORANG-YANG-OFENSIF-ALIAS-NYINYIR-DI-MEDSOS

Selain dikeluarin lewat status media sosial, komentar ofensif juga sering kita temukan lewat kolom komentar itu sendiri. Ketika seseorang atau suatu instansi mem-posting sesuatu, pasti ada aja pihak yang ngasih komentar ofensif di kolom komentarnya. Biasanya, komentar tersebut bertentangan sama apa yang diposting oleh si pemilik akun. Itu artinya, ada pemahaman atau opini yang bertentangan dari pihak yang nge-posting dan pihak yang berkomentar.

Salah satu contohnya adalah M, pengguna Instagram yang sempet ngasih komentar di akun Women’s March Jakarta pada postingan 3 Maret kemarin. Lewat komentarnya, M yang mengaku seorang kuli bangunan menyatakan ketidaksetujuannya dengan acara tersebut. Karena M sama sekali nggak punya followers dan following, pengguna Instagram lain yang juga ikut berkomentar di postingan tersebut mengira M memakai akun palsu. Tapi, ketika kita tanya lewat Direct Message (DM) para Rabu Kamis (8/3), M bilang kalo akun tersebut bukan akun palsunya. M juga merasa, pakai akun palsu atau nggak bukanlah hal yang penting. Baginya, yang penting adalah isi komentar itu sendiri.

“Kenapa harus dipersoalkan? Siapa pun yang menasihati anda di jalan supaya tidak buang sampah sembarangan, anda tidak perlu bertanya apa keuntungannya dan tidak perlu tahu latar belakangnya,” kata M. Siapa yang bilang saya pakai akun fake? Saya memang memilih untuk tidak pakai Instagram, karena saya cenderung tidak peduli apa kegiatan orang lain, apa yang mereka makan, dan ke mana mereka pergi. Aku bikin Instagram pun karena butuh info tentang sepak bola,” cerita M.

 

CARA MENGHADAPI NETTER OFENSIF TANPA KEBAWA OFENSIF

CARA-MENGHADAPI-ORANG-YANG-OFENSIF-ALIAS-NYINYIR-DI-MEDSOS

Kalo mendengar cerita dari keduanya, kita jadi paham kalo sebenernya maksud para netter ofensif belum tentu buruk. Mereka sama aja kayak pengguna medsos lain yang suka mengutarakan pendapat lewat akun mereka. Hanya saja, cara penyampaian netter ofensif inilah yang nggak cocok sama kita. Nah, kalau kita tetep ‘gerah’ sama postingan atau komentar orang yang ofensif, kita punya tips biar kita nggak kebawa-bawa ofensif saat menghadapi mereka.

  • Hanya resapi konten pesan yang dimaksud oleh netter di postingan atau komentar ofensif yang kebetulan kita baca. Abaikan dulu cara netter tersebut menyampaikan pesannya. Dengan begitu, kita nggak bakalan kepancing buat ikutan ofensif juga. Soalnya, bisa jadi cara menyampaikan si netterlah yang sebenernya menyulut emosi kita, entah itu dari gaya bahasanya, meme yang dipake, cara menulis yang pake capslock, atau seberapa banyak tanda seru di postingan
  • Kalau kita bener-bener gatel pengen banget tulis komentar di posting-an atau pengen bales komentar ofensif itu, pastiin kita bales dengan cara yang aman. Perhatikan emoji, tanda seru, dan capslock saat berkomentar. Jangan nantinya malah kita yang jadi lebih ofensif daripada mereka dan ujungnya jadi pihak yang menyulut emosi netizen lainnya.
  • Ada kalanya kita menilai postingan atau komentar yang ofensif mengandung kesalahan logika berpikir. Inilah yang membuat kita merasa harus ngasih balasan komentar. Tujuannya, biar sang netter membuka pikirannya dan mempertimbangkan pendapat orang lain. Kalo kita pengen ngomentarin dengan alasan itu, beri komentar dengan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau perlu, cantumkan link berisi berita, artikel, atau jurnal ilmiah yang mendukung argumen kita. Inget, kuncinya jangan ikutan ofensif.
  • Cara terakhir, abaikan. Ini yang paling efektif biar kita nggak ikut tersulut emosi. Nggak menutup kemungkinan beberapa netter akan terus menerus ofensif kalau kita membalas komentar atau postingan Kalo emang sampe mengundang debat ratusan dan ribuan orang, kita mah cukup jadi pengamat aja. ‘Laporan akhir’nya tinggal kita tunggu aja deh di @infotwitwor. Betul?

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: (http://www.gogirl.id)

Post Author: SKteam